Gue dan Semester Pendek di Kumon

Awal bulan ini, masa kuliah semester-2 gue udah selesai. Hasilnya bisa dibilang lumayan bikin khawatir, tapi apa mau dikata, yang lewat biarlah lewat. Tapi sementara temen-temen gue stay untuk ngambil semester pendek (sebagai ‘penebusan’ atau sekedar ajang ngebut lulus), gue memutuskan untuk melewatkannya dan malah balik ke rumah. Nggak mungkin gue melapor ke emak bapak gue kalau gue males SP, jadi alasan ter-masuk akal buat mereka adalah gue ingin memperbaiki dasar pelajaran gue karena udah mulai keteteran di kampus. Kemana kira-kira gue pergi?

Yak, ke Kumon, les matematika ter-asik yang pernah gue jalani semasa SD-SMP dulu.

Gue ngambil materi tentang trigonometri dan vektor, karena dianggap bersesuaian sama materi tentang mekanika yang seterusnya masih akan gue pelajari. Daripada gue malah bengong di rumah kalau selama liburan cuma ngerjain tugas, gue diajak lagi jadi asisten (mentor) sama pembimbing gue di Kumon.

Empat tahun nggak balik ke Kumon, anak-anak di sana makin banyak, makin pinter-pinter, dan sekaligus makin petakilan semua. Pusingnya, gue yang waktu jadi asisten semasa SMP cuma diminta correcting & recording, kini sudah dipercaya untuk mentoring anak-anak tersebut. Anak-anak yang gue pegang adalah anak-anak yang susah fokus ataupun yang sebentar-sebentar nanya, ngingetin sama diri gue waktu seusia mereka dulu. Baru sadar kalo semua asisten yang handle gue jaman rese’ dulu pada kuat hati banget, ya. :”)

Sejauh ini pekerjaan gue di Kumon lumayan lancar dan menyenangkan: dateng pagi jalan kaki, dapet makan siang, heboh ngoreksi kerjaan dan ngurusin anak-anak, magrib nge-teh, lalu pulang jalan kaki waktu hari udah gelap. Bahu kanan dan tulang ekor gue yang bengkok ini udah jadi korban setia tiap kali pulang kerja, tapi pengalaman gue interaksi sama pembimbing kumon, sesama asisten, dan terutama anak-anak bikin gue belajar banyak tentang budaya kerja, disiplin, interaksi sosial, dan perkembangan mental & pikiran kita sejak kecil sampe dewasa. Gue juga jadi mikir ulang tentang banyak hal, termasuk memperbaiki tujuan gue menjalani perkuliahan dan kehidupan gue sendiri. Gue bersyukur diberi kepercayaan yang butuh tanggung jawab di usia semuda ini. Semoga semakin banyak kesempatan lain yang akan datang di kemudian hari, amin.πŸ™‚

Kalo satu kali kalian dapet kesempatan magang, ambil deh. Biarpun bayarannya beda sama yang kerja full time, tapi pengalamannya berharga banget buat kita sebelum beneran masuk ke dunia kerja nanti. Pengalaman magang juga lumayan ‘ngejual’ buat dimasukin ke CV kita, lho.πŸ˜€

Gue dan Ribetnya Lensa Kontak

Kebiasaan gue berlama-lama megang smartphone dan nangkring di depan laptop pada akhirnya bikin mata gue minus. Udah sekitar dua tahun lebih gue terpaksa make kacamata, terutama untuk ngikutin kelas/kuliah. Namun dengan keadaan hidung gue yang pesek ngenes ini, kacamata gue sering banget merosot tiap kali dipake. Gue juga udah ngilangin beberapa kacamata karena sering banget naroh benda-benda sembarangan dan gagal mengingat kembali ke mana terakhir benda tersebut gue pindahin.😦

Tanggal 12 kemarin, gue akhirnya memutuskan untuk beli sepasang lensa kontak demi alasan kepraktisan. (Udah gaya-gayaan beli yang warnanya coklat muda, pada akhirnya nggak keliatan karena warnanya mirip warna asli iris gue. -_-) Awalnya aja ternyata udah ribet. Gue menghabiskan sekitar 40 menit di optik dengan mata merah dan bercucuran air mata hanya untuk belajar masang lensanya. Orang-orang yang keluar masuk optik ngeliat gue dengan tatapan ngeri dan (kemungkinan) bakal mikir kalau mereka nggak perlu beli lensa kontak dalam waktu dekat. :p

Tiap hari, gue menghabiskan bermenit-menit sebelum berangkat kuliah untuk sekedar masang dan bermenit-menit lagi sebelum tidur untuk ngelepas lensa kontak Terkadang kegiatan masang-nyopot ini masih gue lalui dengan drama bercucuran air mata, apalagi kalo lagi buru-buru. Untungnya hari demi hari waktu yang gue habiskan jadi semakin singkat, walaupun gue sadari kalau gue butuh waktu lebih lama untuk pasang-copot lensa sebelah kanan dibandingin yang kiri.

Sayangnya, proses nyopot lensa gue malem kemarin nggak berjalan mulus. Lensa yang sebelah kanan slip ke bawah waktu gue coba copot, dan akhirnya kedua jari gue malah nyolok mata sendiri. Dan beginilah penampilan gue hingga beberapa jam setelah kejadian:

TPhoto_00012

Setelah nyari tahu (plus info dari Talitha), gue baru ngeh kalau mata kita nggak boleh kering waktu kita nyopot lensa kontak. Lensa kontak memang menyerap kandungan air dalam mata supaya bisa nempel dan bentuknya tetap. Setiap beberapa saat, mata yang make lensa kontak harus ditetesin obat supaya kelembaban mata terjaga, penglihatan tetep cerah, dan pada akhirnya jadi gampang nyopotnya juga.πŸ˜€

Kalo ditanya apakah setelah kejadian ini jadi kapok, jawaban gue sih enggak. Cuman emang gue harus belajar sabar kalo nggak mau pegel make kacamata dan tetep make lensa kontak. Sayang-sayang sama mata, ya. Berbahagialah teman-teman yang penglihatannya masih bagus dan nggak perlu make alat bantu penglihatan.πŸ™‚

Gue dan awal mula mengenal Stand-Up Comedy

Hype-nya Stand-Up Comedy di Indonesia memang udah mulai sejak beberapa tahun lalu, tapi baru di tahun 2013 ini gue berkesempatan nonton live (3GP Tour Depok nya Ge Pamungkas & Habis Gelap Terbitlah Tawa nya Pandji Pragiwaksono). Pengalaman yang asik sih menurut gue, hiburan yang lumayan ngajak mikir kritis juga. Di sini, gue ingin berbagi sedikit kisah gue mengenal stand-up comedy.

Awalnya gue udah pernah sekilas liat beberapa video di YouTube yang isinya pelawak (biasanya dari luar negeri) yang menceritakan beberapa kisahnya sendirian di atas panggung untuk diketawain rame-rame. Gue pun tahu istilah stand-up comedy, walaupun dulu gue nggak ngerti bercandaannya, entah karena kendala bahasa, kurang berpikir, ataupun masih beda persepsi tentang humornya.

Sekitar tahun 2010, gue liat pertunjukan semacam itu di salah satu stasiun tv swasta. “Nah, akhirnya kita punya becandaan yang pinter di tv!”, begitu pikir gue saat itu. I didn’t expect much about the comics’ (pelaku) performances, karena pada saat itu masih sedikit yang paham, berani, dan cukup pintar untuk membawakan gaya lawakan macam itu, apalagi di tv nasional. Tapi gue udah cukup senang stand-up comedy masuk ke Indonesia.

Setelah gue cari tahu, ternyata gaya stand-up ini sendiri udah lama dipake sama nama beken macam Butet Kertaradjasa. Namun dulu gue masih menganggap itu mungkin hanya monolog, karena topik yang dia bawakan nggak begitu “lawak”, lah, karena yang sering gue liat topiknya politis. Tapi comics yang ada di tv ini membawakan topik yang ringan dan dekat dengan kehidupan kita, jadi lebih mudah dicerna dan lebih “dapet” lah lucunya.

Lalu beberapa orang yang tertarik mendalami stand-up comedy membentuk komunitas regional, bahkan nasional. Mereka sering bikin event yang ngundang comics pro untuk perform dan ngasih semacam seminar, ataupun ngadain open mic untuk ajang latihan para pemula,. Salah satu tv swasta bahkan ngadain kompetisi stand-up comedy sendiri.

Salah satu jebolan kompetisi tersebut, Ernest Prakasa, akhirnya jadi orang pertama yang melakukan tur nasionalnya yang dinamai “Merem Melek Tour”.Dengan pemahaman orang-orang yang pada saat itu belum mendalam tentang seni stand-up comedy, jelas ini sebuah langkah berani. Namun kenyataannya tur ini sukses, dan mendorong comics lainnya melakukan hal serupa.

Banyak orang tahu tentang Merem Melek Tour dari Twitter, termasuk gue, karena nge- follow orang-orang terkenal yang ternyata adalah salah satu penggiat awal stand-up comedy seperti Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono (keduanya juga merupakan host kompetisi stand-up comedy Indonesia musim pertama). Namun setelahnya atmosfer asik ini meluas, dan orang-orang pun semakin penasaran tentang stand-up comedy. Dua stasiun tv nasional pun meng-intensifkan durasi penayangan acara stand-up comedy nya. Semoga bukan pencitraan supaya dikira cerdas dan modern aja.

Bulan dan tahun berlalu, sekarang siapa sih penggemar stand-up comedy yang nggak tahu Raditya Dika, Pandji, Ernest Prakasa, Ryan Adriandhy, Sammy D. Putra, Soleh Solihun, dan lain-lain? Sekarang bahkan kita bisa milih mau nonton comics dengan gaya melucu dan membawakan materi yang berbeda-beda. Tapi butuh waktu yang nggak sebentar dan usaha yang super keras dari banyak pihak sampai akhirnya stand-up comedy jadi hiburan yang lumrah dan kreatif di Indonesia seperti sekarang ini.

Sebelum mengakhiri, gue mau ngasih semangat buat teman-teman yang sedang merintis karir stand-up comedy nya, semoga sukses! Jangan berhenti belajar, liat aja comics yang sekarang segitu terkenalnya butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun karir dan dikenal kayak gitu. Semoga suatu saat gue bisa nonton tur nasional kalian, amiin.πŸ™‚

Gue ingin mendedikasikan tulisan ini untuk calon maba SAPPK ITB 2012 yang udah lebih dulu meninggalkan kita karena pembengkakan jantung (mohon maaf gue lupa namanya). Dulu gue pernah denger kalo dia lagi semangat belajar tentang stand-up comedy sebelum dia wafat. Semoga kamu beristirahat dengan tenang, kawan. We love you.

Disney Sing Along Songs Opening Theme

Video

(I do not own the music nor the video, they belongs to its rightful owners)

Enjoy singing along to the song!
It brings back good childhood memoriesπŸ˜€

lyrics via: http://lyrics.wikia.com/Disney:Disney’s_Sing_Along_Songs_Theme

Profesor Owl: Is everybody ready?

Students: To sing-along!

Profesor Owl: With Disney Songs!

Girl Students: A Disney Sing-Along!

Profesor Owl: Now you at home can sing-along, with your
favorite Disney songs. We will play every note so you can sing-along!

Students: Join right in, sing-along with your favorite
Disney Songs. Once you learn every word, you’ll want to sing-along!

Dunce: But I don’t know all the songs!

Profesor Owl: We’ll make sure you can’t go wrong!

Girl Students: Sing-along one and all! Follow the bouncing
ball!

Profesor Owl: You’ll find out before your done, music’s fun
for everyone!

Everyone: Join right in sing-along with…

Students: Diiisneeeyy Siiing-Allooong Soooooongs!

Posting pertama

Well… This is a bit awkward, I guess.

Entah kenapa gue memutuskan untuk pada akhirnya membuat blog, walau gue nggak begitu yakin akan diisi apa nantinya.
Di sini gue beneran harus mikir apa yang akan gue post, bukan lagi sekedar repost kayak di ‘so-called-blog’ gue yang dulu.

Tapi yang terpenting, gue nggak begitu pengen ada orang yang expect apapun dari tulisan-tulisan di blog gue kelak.

I don’t even want people realize that I do have a blog.
I’m just not comfortable if people read those free thoughts and shits I wrote.

Tapi untuk sekarang, mari senang sendiri dulu di posting pertama ini.
Sampai ketemu di posting berikutnya (yang hopefully bisa dibuat dalam waktu dekat)…
Ja, matta ne! :))